Selasa, 28 Maret 2017

Prioritas Dakwah: Melayani Rakyat Miskin



Inti pesan surat Abasa adalah Allah mengingatkan Rasulullah Muhammad saw tentang skala prioritas menjalankan misi dakwah. Bahwa melayani rakyat miskin itu lebih utama daripada memperhatikan para pembesar dan bangsawan karena berharap keimanan mereka.
Hal itu disampaikan KH Sachroji Bisri saat Kajian Tafsir Alquran Berdasarkan Turunnya Wahyu dengan Pendekatan Strategi Taktik di Pesantren Mahasiswa Rausanfikr Surabaya, Sabtu (11 Februari 2017).  Kajian tafsir ini memakai kitab Jalalain karangan Jalaluddin Mahmud Mahaly dan  Jalaluddin Abdurrahman Suyuthi.
Asbabunnuzul surat ini menjelaskan ketika Nabi Muhammad berbincang dengan pembesar Quraisy seperti Utbah bin Rabiah, Walid bin Mughirah, Abbas bin Abdul Muthalib, dan Abu Jahal tiba-tiba masuk Abdullah bin Ummi Makhtum yang buta memotong pembicaraan meminta pengajaran Islam. Wajah Nabi tampak cemberut karena pembicaraannya disela.
Bang Oji, demikian panggilan KH Sachrodji Bisri, menjelaskan, surat ini memang teguran kepada Nabi agar kalau datang rakyat miskin yang sudah jelas keislaman dan keimanannya agar diperhatikan meskipun saat itu ada pertemuan penting dengan para pembesar kafir.
”Ayat-ayat dalam surat ke-80 ini adalah gambaran cara Allah menegur dengan bahasa yang halus,” sambung dia. ”Coba perhatikan ayat pertama ‘abasa wa tawallaa yang artinya dia telah cemberut dan berpaling,” ujar dia.
 Kalimat itu, kata Bang Oji, disampaikan tanpa menyebut domir (subjek) secara langsung. Lantas siapakah yang dimaksud dia yang cemberut itu? Nabi Muhammad. Kenapa Allah tidak langsung menyebut nama nabi saja kalau ingin menegur? ”Itulah gaya bahasa yang dipakai Allah untuk mengingatkan. Meskipun teguran keras tapi tetap disampaikan dengan halus dengan tidak menyebut nama langsung,” sambungnya.
Bang Oji juga menegaskan, meskipun surat ini berisi teguran namun bukan berarti Nabi Muhammad mempunyai kesalahan. ”Ayat itu menegaskan tentang mengutamakan orang muslim yang meminta pengajaran didahulukan daripada memperhatikan pembesar yang tidak jelas komitmennya,” kata dia.
Alquran, sambung dia, sesungguhnya peringatan bagi orang-orang yang mau diingatkan. Biasanya orang cilik dan miskin yang mau mendengar peringatan itu. Pembesar dan orang kaya suka abai dan meremehkan ajaran Islam.
Seperti disampaikan Allah dalam ayat 2, 3 dan 4 bahwa orang buta yang yang datang itu ingin menyucikan dirinya atau mendapat pengajaran yang bermanfaat. Sedangkan orang-orang kaya yang mendapat perhatian namun tetap kafir (ayat 5,6,7). 
Tafsir dari surat ini yang dapat diambil pelajaran adalah skala prioritas pembangunan adalah memperhatikan kesejahteraan rakyat kecil bukan mengutamakan orang kaya. Dalam praktiknya, rakyat miskin yang memiliki militansi dan kesetiaan malah digusur demi memenuhi kenyamanan orang kaya. sgp     

Nabi Mampu Menerjemahkan Bahasa Langit




Wahyu yang diterima Nabi Muhammad dijamin sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah yang disampaikan melalui malaikat Jibril. Nabi kemudian menyampaikannya ke dalam bahasa manusia karena wahyu itu memang untuk mengatur kehidupan manusia.
Hal itu disampaikan KH Sachrodji Bisri saat membahas surat An Najm dalam Kajian Tafsir Alquran Berdasarkan Turunnya Wahyu dengan Pendekatan Strategi Taktik di Pesantren Mahasiswa Rausanfikr Surabaya, Sabtu (17/12).
Kenapa Nabi mampu memahami bahasa langit? Bang Oji, demikian panggilan akrab KH Sachrodji, menjelaskan, karena Nabi Muhammad SAW mendapatkan pengalaman ruhani sangat luar biasa. Mulai bertemu dengan wujud asli malaikat Jibril hingga berkelana ke Sidratul Muntaha, langit yang penghabisan.
Sebab itu Allah meyakinkan dalam ayat kedua surat An Najm bahwa kawanmu (Nabi Muhammad)  tidak sesat dan tidak keliru. ”Nabi tidak pernah belajar pemikiran sesat darimana pun selama hidup,” kata Bang Oji. Dhola dalam ayat itu, sambung dia, dapat dimaknai sesat perbuatan. Sedangkan ghowaa boleh juga diartikan sesat pemikiran.
Ayat ketiga, keempat dan kelima menegaskan, dan tidaklah yang diucapkan itu menurut  hawa nafsunya.  Melainkan dia menerima wahyu yang diwahyukan yang diajarkan dari makhluk yang sangat kuat fisik dan pikirannya yakni Jibril.
 ”Jibril menampakkan wujud aslinya kepada Nabi sebesar ufuk. Bayangkan besarnya memenuhi separo langit. Orang yang melihatnya pasti tercekam,”  kata Bang Oji. Dari wujud yang sangat besar itu lalu mengecil semakin mendekat kepada Nabi untuk menyampaikan wahyu.
Menurut Bang Oji, pengalaman ruhani seperti itulah sumber pemikiran dan penglihatan Nabi Muhammad  langsung dari langit. Bukan berasal dari perkataan orang, warisan pemikiran nenek moyang, atau olah kata pemikiran diri sendiri.
Karena Alquran itu wahyu maka isinya sangat luar biasa hebat. Dia mengandung tiga nilai sekaligus yaitu benar, baik, dan bagus.  Benar isinya, baik sesuai dengan etika, dan bagus susunan syairnya mengandung keindahan.
Karena itu jangan dibandingkan kehebatan Alquran dengan pemikiran manusia. Apalagi dengan berhala Lata, Uzza, dan Manat sesembahan musyrik Quraisy.  Hanya orang-orang sekuler dan materialisme  suka  menuduh wahyu yang diterima Nabi Muhammad sebagai kebohongan atau karangan Nabi sendiri.
”Orang yang berkilah dengan tafsir heurmenetika  bahwa yang paham arti ayat Alquran hanyalah Allah sendiri sama saja dengan tidak memercayai  Nabi Muhammad,” kata Bang Oji menjelaskan. (sgp)

Udun Makar



Kegaduhan di negeri ini belum berhenti. Sambung menyambung setiap hari. Orang saling melapor karena tersinggung tulisan di facebook, instagram atau mendengar ceramah. Bukan hanya rakyat tapi juga pejabat.
 Ada Kapolda mengerahkan preman untuk menandingi  demonstrasi. Tak pelak terjadi pukul-pukulan hingga ada yang mati. Ada orang diincar terus dicarikan kesalahannya. Ada rakyat digerebek sepasukan polisi di rumahnya tengah malam. Tuduhannya, dia melecehkan bendera merah putih. Sebab saat demonstrasi satu rakyat ini membawa bendera merah putih ditulisi kalimat syahadat huruf Arab berhias dua pedang.
Padahal sebelumnya ada banyak kejadian bendera merah putih ditulis-tulisi dibawa demonstrasi dibiarkan saja. Misalnya, tulisan Bebaskan Ahok di bendera merah putih ya mulus-mulus saja. Ada bendera merah putih berhias logo Slanker, Metallica, dan grup band lain, pembawanya tidak ditangkap. Aneh bukan?
Rakyat menyimpulkan yang dianggap melecehkan oleh pemerintah itu bila bendera ditulisi huruf Arab. Lainnya boleh. Arabfobia?
            Para menteri juga tidak peka. Ketika muncul simbol-simbol komunis, Menteri Luhut  Binsar Panjaitan berkata itu hanya mode anak muda. Menteri Lukman Hakim bilang itu hantu komunis untuk menakut-nakuti saja.
Menteri Sri Mulyani dan Gubernur Bank Indonesia membantah tidak ada gambar palu arit di uang kertas. Gambar itu terbentuk dari konfigurasi logo BI untuk pengaman. Semestinya kalau ada masukan perkara sensitif  maka konfigurasi logo diubah hingga tidak berbentuk palu arit.
            Orang yang suka mengingatkan bahaya bangkitnya komunis dituduh komunistofobia. Sebab mereka anggap komunis sudah mati, tidak diminati lagi. Tapi melihat gejala ada kelompok yang suka melecehkan agama, merendahkan ulama, membanjirnya orang-orang Cina, sudah sepatutnya waspada. Sebab komunis dua kali bikin heboh di negara ini mengorbankan banyak nyawa.
            Perlu memperbaiki komunikasi antara rakyat dengan pejabat agar saling memahami sehingga tidak perlu gaduh. Hari ini yang terjadi rakyat tidak percaya pemerintah, pejabat curiga dengan rakyatnya. Muncullah arogansi masing-masing.
Apa pun yang diucapkan meskipun niatnya baik menjadi curiga karena sudah ada prasangka. Salah komunikasi ini bila diteruskan menjadikan negara menjurus berbahaya. Pertikaian antar rakyat, pejabat dengan rakyat, bila meluas menjadikan negara pecah.
            Mengkritik pemerintah dituduh makar. Padahal dulu sekali presiden pernah berkata suka dikritik, boleh demonstrasi, untuk mengingatkan pemerintah. Malah demonstran dipersilakan masuk kantornya, disuguhi makanan. Apakah sekarang sudah berubah pendapat?
            Ketidakpuasan rakyat harus dijawab pemerintah dengan bijak. Perlu menyamakan makna dan simbol  bahasa yang dipakai sehingga memahami masalah dengan persepsi yang sama.
Kemarin ada kejadian lucu saat anak SD diminta presiden menyebutkan nama-nama ikan. Pas menyebut nama ikan tongkol, ucapan anak ini terbalik-balik menjadi ikan kon***.  Hadirin tertawa, presiden juga tertawa. Dianggap lucu meski tidak patut. Bayangkan, kalau yang mengucapkan itu orang dewasa pasti  dituduh kurang ajar dan kena pasal penghinaan.
            Untuk memahami cara berkomunikasi yang berhasil ada baiknya kita menyimak kisah Abu Nawas memantati presiden yang dilakukan dengan cara brilian. Hasilnya presiden malah tertawa, tidak merasa terhina.
 Suatu hari, kelompok politikus pengrumpi bertemu Abu Nawas. Lalu mereka memberikan tantangan berbahaya kepada Abu Nawas yang dikenal sebagai orang dekat presiden.
”Abu Nawas kamu dikenal cerdik. Kali ini kami punya tantangan yang sulit bagimu lolos dari hukuman penghinaan pejabat negara,” ujar pengrumpi.
”Ana hanya takut kepada Allah. Selama berpegang pada Alquran dan sunnah semua beres. Apa tantangan ente?” jawab Abu Nawas santai.
”Apakah kamu berani memantati muka Yang Mulai Presiden di depan umum dan tidak tersinggung ?”
            ”Kalau ana berani dan berhasil apa taruhannya?”
            ”Seratus juta rupiah!”
            ”Hah? Uang suap saja sudah di atas dua miliar. Nyawaku kamu hargai segitu? Saya minta Rp 10 miliar bayar di muka. Deal?”
            Ganti para pengrumpi ciut nyali dengan harga taruhan. Heran, Abu Nawas kok langsung berani. Pasti sudah punya akal licik. Tapi mereka telanjur menantang maka malu muka kalau mundur balik ke belakang. Mereka urunan sehingga terkumpul Rp 10 miliar. Mereka penasaran siasat  apa yang diperagakan orang dekat presiden ini.
            ”OK. Deal!!!” jawab Abu Nawas. ”Nantikan di acara istana pekan depan. Kalian pasti diundang,” sambungnya.
Sepekan kemudian digelar acara jamuan makan di istana. Semua pejabat menteri, politikus, dan penegak hukum diundang. Saat acara dimulai kelompok pengrumpi tidak melihat Abu Nawas. Jangan-jangan Abu Nawas mangkir, kata mereka berbisik-bisik curiga. Sudah lari jauh membawa uang Rp 10 miliar ke Kolombia, kata lainnya.
Tiba-tiba muncul  Abu Nawas dari pintu masuk. Semua mata hadirin tertuju kepadanya termasuk Yang Mulia Presiden. Tetapi Abu Nawas tetap saja berdiri tidak segera duduk di kursi. Maka Yang Mulia Presiden memanggilnya dan menyuruh duduk.
”Maaf Yang Mulia, saya tidak bisa duduk,” jawab Abu Nawas.
”Kenapa? Kita ini sederajat. Rakyat dan pejabat boleh duduk di kursi istana,” kata presiden.
”Saya tahu, Yang Mulia. Tapi hari ini saya udun besar sekali,” jawab Abu Nawas. ”Saking besarnya sampai saya buatkan kantung sendiri,” katanya lagi.
”Coba lihat udunmu,” ujar presiden.
Abu Nawas pun balik badan dan menungging di depan presiden. Presiden dan hadirin tertawa melihat benjolan besar di pantat Abu Nawas dengan modifikasi celana berkantung tempay udun.
”Ini namanya udun makar,” celutuk presiden tertawa. Semua hadirin juga tertawa termasuk para politikus pengrumpi yang kalah taruhan. Abu Nawas menyeringai senang. (*)

Kamis, 22 Desember 2016

Semangat Baru 2017



Menginjak tahun baru 2017, setidaknya umat Islam Indonesia membawa  modal  yang bagus.  Yaitu ukhuwah Islamiyah dan ghirah mandiri. Dua modal  itu merupakan efek dari Aksi Bela Islam di Jakarta. Berkumpulnya jutaan umat Islam untuk shalat Jumat dan berdoa di Monas sungguh mengharukan karena peristiwa itu jarang terjadi.  Efek lain adalah menumbuhkan kepercayaan diri.
Terpanggilnya jutaan kaum muslim dari seluruh penjuru tanah air menunjukkan kemauan dan kekuatan umat untuk membela agamanya dari hinaan orang sangat besar. Begitu ada komando maka jutaan umat berduyun-duyun ke Jakarta dengan modal sendiri. Mereka melepaskan atribut  kelompok kemudian menyatu dalam satu kekuatan Islam.
Ketika ada halangan dari polisi yang mencegah kedatangan umat ke Jakarta dengan mengancam perusahaan bus agar tidak mengangkut mereka, umat pun tidak lantas menyerah.  Umat Islam Ciamis memutuskan berjalan kaki long march ke Monas menempuh jarak 200 km. Gerakan ini menginspirasi kota-kota lain yang akhirnya turut berjalan kaki ketika sulit mendapatkan bus. Polisi pun dibuat repot dengan aksi balasan ini.
Efek peristiwa itu juga membangkitkan kesadaran umat untuk mandiri demi menegakkan harga diri sebagai umat dan bangsa. Ghirah ini muncul tidak lepas dari situasi politik dan ekonomi  negeri yang semakin melemahkan ekonomi rakyat dan menyudutkan posisi umat Islam.
Melemahnya ekonomi rakyat karena pemerintah lebih suka berpihak kepada praktik kapitalisasi dan liberalisasi. Rakyat miskin digusur karena kumuh dapat merusak harga kawasan mewah yang dibangun lewat modal kapitalis asing.
Minimarket tanpa izin menjamur di perkampungan mematikan usaha toko pracangan. Minimarket itu simbol konglomerasi pengusaha besar yang ikut menjarah bisnis recehan.  Pemerintah tidak berani secara tegas membatasi gerak bisnis konglomerasi ini dengan alasan kebebasan berusaha.
Dipicu oleh pengumuman pabrik Sari Roti yang menyudutkan Aksi Bela Islam sehingga memunculkan gerakan boikot terhadap produk roti itu. Boikot juga melebar dengan anjuran tidak berbelanja di minimarket  keras disuarakan. Gerakan boikot ini bertujuan menyadarkan para kapiltalis bahwa pasar produk mereka  tergantung dari konsumen besar muslim.
Aksi ini berdampak positif. Pertama, memunculkan perusahaan roti  di kalangan umat untuk mengisi pasar sehingga ada pilihan produk yang berpihak kepada rakyat. Kedua, mendirikan minimarket sendiri dan menghidupkan toko dan pasar tradisional.
Memang ada suara nyinyir dan sinis mencoba melemahkan. Dikatakan, pabrik roti umat dan minimarket itu tidak bisa lepas dari menjual produk kapitalis dan konglomerat yang sudah menguasai pasar. Pada langkah pertama, ketergantungan dengan produk kapitalis memang belum bisa dielakkan.  Penguasaan pasar mereka saat ini sukar dilawan.
Setahap demi setahap dalam jangka panjang bila bisnis umat ini konsisten dan berkembang niscaya kemandirian itu bakal terwujud untuk memenuhi produk di pasar umat Islam. Setidaknya ada bargaining position dengan para kapitalis ketika produk-produk umat juga menjadi pilihan. Tentu saja semangat boikot produk kapitalis dan anjuran membeli  di toko pribumi harus terus dilantangkan.
Membangkitkan ekonomi rakyat ini bukan pilihan gampang. Sebab yang dilawan adalah kapitalis. Ibaratnya seperti  cecek nguntal dingklik, kata arek Surabaya. Apalagi pemerintah juga tidak berniat menumbuhkan pengusaha pribumi. Maka gerakan ini berhasil harus dari umat sendiri tanpa mengandalkan pemerintah.
Kita tengok saja ke belakang becermin kepada sejarah. Islam berkembang ke nusantara karena perdagangan. Melahirkan saudagar-saudagar pribumi di kawasan pesisir dan pelabuhan ketika bertemu dengan pedagang dari Timur Tengah. Bisnis yang dibentuk adalah saling menguntungkan. Maka tersebarlah penganut Islam di kalangan rakyat sekaligus menumbuhkan perekonomiannya.
Tapi pelajari sejarahnya juga, perkembangan ekonomi rakyat ini akhirnya dirusak oleh kedatangan orang-orang asing dari Eropa yang rakus ingin menguasai  kekayaan alam dan manusianya. Kapitalis asing inilah sejak masa dulu yang merusak kehidupan rakyat kita.
Sekarang kapitalis asing pun berdatangan dengan gaya ramah tamah. Bahkan mereka diundang. Namun pengalaman menunjukkan kenyataan, ketika ekonomi dikuasai mereka, bangsa pribumi hanyalah menjadi kuli dan buruh. Pemerintah tertawa-tawa bangga karena mampu membuka lowongan kerja bagi rakyatnya. Bangga rakyatnya sebagai buruh dan kuli.
Alquran menuliskan dalam surat Ali Imron : 110, kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan kepada manusia. Kalian menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran dan kalian orang yang beriman kepada Allah.
Gambaran  ideal umat Islam seperti itu pernah terjadi di zaman Rasulullah yang akhirnya menguasai jazirah Arab. Kemudian diteruskan penggantinya hingga menyebar ke separo dunia.  Menciptakan tatanan masyarakat tauhid, egaliter, makmur, dan militan.
Kemakmuran dan kekayaan pada akhirnya memang melenakan dan melemahkan militansi sehingga tatanan ini gampang dihancurkan lagi oleh kedatangan orang-orang asing dari Eropa. Umat tercerai berai  dalam kepentingan politik yang berbeda.
 Dalam situasi lemah ini posisi umat Islam menjadi serba salah. Berusaha bangkit dituduh teroris. Membangun perekonomian ditertawakan sebagai kemuskilan. Menuntut  keadilan dianggap rasialis, intoleran, dan merusak kebinekaan.
Kasus terbaru, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram memakai atribut non muslim malah dinilai pemerintah meresahkan masyarakat dan mengabaikan toleransi. Pejabat kita seperti menutup mata dikeluarkannya fatwa itu disebabkan pengusaha memaksakan buruh muslim mengenakan atribut Kristen saat perayaan natal.
Dalam situasi yang tidak menguntungkan seperti ini tidak ada kata lain selain: lawan ketidakadilan. Bila diserukan baik-baik malah dilecehkan maka pilihanya adalah revolusi. (*)