Sabtu, 18 Juni 2016

Menembus Lailatul Qadar







Puasa Ramadhan berakhir. Saatnya di bulan Syawal ini mengukur apakah puasa kita cukup berkualitas ataukah sekadar berbasa-basi kepada Allah. Kali ini kita mengukur kualitas itu dengan surat  Al Qadar.
Allah menerangkan, sesungguhnya kami menurunkannya (Alquran) dalam lailatul qadar. Lailatul qadar kalau diterjemahkan  bebas bermakna malam berkadar. Malam berukuran. Malam berbobot yang berbeda dengan malam-malam lainnya.  Kenapa berbobot? Karena malam itu awal diturunkan ayat Alquran.  Malam itu adalah malam Ramadhan (Al Baqarah : 185).
Istimewanya malam itu karena disebut Allah lebih baik dari seribu bulan. Seribu bulan itu sama dengan  83 tahun. Artinya nilai atau kualitas satu malam itu sama dengan hidup selama 83 tahun. Lantas apa yang membuatnya istimewa?
Allah menyebutkan, malam itu diturunkan banyak malaikat dan satu ruh dengan izinnya. Karena dengan izin Tuhan maknanya Allah dengan sengaja menciptakan suasana istimewa di malam berkadar itu. Untuk apa para malaikat dan ruh diturunkan? Dengan izin Allah para malaikat  dan ruh diturunkan untuk mendatangi seluruh urusan manusia. 
Kalau  seluruh urusan manusia didatangi oleh malaikat dan ruh itu artinya  pasti Allah pada malam itu benar-benar memperhatikan keinginan dan kebutuhan manusia. Bayangkan kalau semua urusan manusia didatangi malaikat atas perintah Allah maka semua urusan manusia dijamin lancar. Seluruh harapan mewujud. Doa-doa terkabul.
Apa tandanya urusan itu lancar? Keselamatan dan kedamaian terjadi di malam itu hingga terbitnya fajar. Meskipun suasana kedamaian  itu terjadi di malam hari tetapi pengaruhnya bakal terus terasa hingga siang hari dan hari-hari selanjutnya.
Jadi di akhir bulan Ramadhan jika Anda  merasakan kedamaian, tidak ada perasaan khawatir, berperasaan optimistik, selalu bersemangat,  pikiran makin terang, muncul ide segar, maka ketahuilah  Anda telah menembus lailatul qadar.   Malaikat telah  mendampingi Anda untuk menyelesaikan segala urusan. Segala persoalan yang Anda hadapi menemukan jalan keluarnya.
Malaikat adalah makhluk pelayan Allah yang setia. Tidak membantah, tidak bernafsu. Hobinya bertasbih memuji Allah dan menyucikan namanya (Al Baqarah : 30). Kata malaikat berbentuk jamak artinya banyak malaikat. Kata mufradnya mala’ artinya penjaga.
Ada tafsir yang menerangkan seluruh alam semesta, kehidupan, dan tiap urusan di dunia dan akhirat dijaga oleh mala’.  Angin bergerak yang mengatur adalah mala’. Gunung meletus yang berperan adalah mala’. Makhluk lahir, mati, dan rezeki di sisinya ada mala’. Ketakutan, keberanian, dan cinta digerakkan oleh mala’. Jadi semua kekuatan alam semesta yang bergerak dan berkembang bahkan dalam benda sekecil atom, di situ ada peran mala’.
Orang-orang Rumawi dan Hindu sadar kekuatan alam itu ada penjaganya. Kemudian dua bangsa ini memersonofikasi kekuatan alam itu sebagai makhluk perkasa di atas kekuatan manusia yang disebut dewa. Maka mereka pun memberi nama-nama makhluk personofikasi kekuatan alam itu sesuai dengan fungsinya. Ada Dewa Angin, Dewa api,  Dewa Laut, Dewi Padi, Dewa Gunung, Dewa Amor, Dewi Fortuna,  dan nama dewa lainnya.
Dewa-dewa ini mereka sembah, dipuja-puji, diberi sesaji karena dianggap berpengaruh dengan kehidupan manusia. Padahal mereka sebenarnya adalah malaikat. Dua bangsa ini menganggap tidak begitu penting Tuhan yang sebenarnya sebab tidak langsung bersentuhan dengan kehidupan mereka. Begitulah paham ini kemudian tersebar ke penjuru dunia menjadi agama. Alquran menjelaskan semua urusan alam semesta itu dipegang oleh malaikat.  Dan malaikat bukanlah Tuhan yang patut disembah. Allah Tuhan yang sebenarnya yang menciptakan dan mengatur semua itu.
Ruh yang disebut dalam surat Al Qadar adalah jibril. Dia mendatangi manusia untuk memberikan wahyu, ilham, inspirasi, ide, gagasan untuk memecahkan persoalan yang dihadapi manusia.
Manusia yang didatangi malaikat dan ruh tentu saja adalah manusia yang dimensinya sudah sefrekuensi dengan gelombang malaikat. Itu bisa dicapai oleh orang yang benar-benar melaksanakan puasa dan qiyamul lail. Disambung dengan  i’tikaf, berdiam, konsentrasi, semedi, sebagai upaya untuk menciptakan keheningan, menemukan frekuensi yang sama.
Inilah puasa berkualitas. Puasa yang nuansa ruhaninya mampu mencapai frekuensi malaikat. Hanya orang-orang yang berpuasa seperti ini yang bisa menembus lailatul qadar. Didatangi malaikat untuk dibantu segala urusan kehidupannya. Mendapatkan keselamatan, kedamaian, selama malam hingga fajar.
Jadi setelah bulan Ramadhan ini berakhir, saatnya mengukur diri ketika memasuki Syawal. Jika kehidupan Anda terus berkembang menjadi lebih baik, rezeki bertambah, prestasi meningkat, hidup rumah tangga makin tentram, akal makin cerdas menemukan solusi, muncul ide-ide brilian, konflik dan sengketa terselesaikan, serasa mendapat energi baru,ketahuilah  itu tandanya Anda mendapatkan lailatul qadar.
Manusia yang menembus lailatul qadar rasanya seperti dilahirkan kembali. Menjadi manusia baru penuh pencerahan. Menjadi manusia fitrah yang dilahirkan memasuki dunia Idul Fitri. Disambut dengan suka cita lewat kumandang takbir, tahlil, dan tahmid mulai malam hingga pagi.  
Sebaliknya jika kehidupan Anda sesudah Ramadhan datar-datar saja, sama seperti biasanya atau bahkan menurun, sadarilah bahwa kualitas puasa Anda juga biasa-biasa saja sehingga lailatul qadar tidak menghampiri Anda. Lebih buruk lagi bila Anda hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Pahala pun tidak karena puasa Anda sekadar basa-basi.
Taqabalallahu minna wa minkum. Taqabal Ya Kariim.  

Puasa Jangan Sia-sia






Puasa Ramadhan berakhir. Saatnya di bulan Syawal ini mengukur apakah puasa kita cukup berkualitas ataukah sekadar berbasa-basi kepada Allah. Kali ini kita mengukur kualitas itu dengan surat  Al Qadar.
Allah menerangkan, sesungguhnya kami menurunkannya (Alquran) dalam lailatul qadar. Lailatul qadar kalau diterjemahkan  bebas bermakna malam berkadar. Malam berukuran. Malam berbobot yang berbeda dengan malam-malam lainnya.  Kenapa berbobot? Karena malam itu awal diturunkan ayat Alquran.  Malam itu adalah malam Ramadhan (Al Baqarah : 185).
Istimewanya malam itu karena disebut Allah lebih baik dari seribu bulan. Seribu bulan itu sama dengan  83 tahun. Artinya nilai atau kualitas satu malam itu sama dengan hidup selama 83 tahun. Lantas apa yang membuatnya istimewa?
Allah menyebutkan, malam itu diturunkan banyak malaikat dan satu ruh dengan izinnya. Karena dengan izin Tuhan maknanya Allah dengan sengaja menciptakan suasana istimewa di malam berkadar itu. Untuk apa para malaikat dan ruh diturunkan? Dengan izin Allah para malaikat  dan ruh diturunkan untuk mendatangi seluruh urusan manusia. 
Kalau  seluruh urusan manusia didatangi oleh malaikat dan ruh itu artinya  pasti Allah pada malam itu benar-benar memperhatikan keinginan dan kebutuhan manusia. Bayangkan kalau semua urusan manusia didatangi malaikat atas perintah Allah maka semua urusan manusia dijamin lancar. Seluruh harapan mewujud. Doa-doa terkabul.
Apa tandanya urusan itu lancar? Keselamatan dan kedamaian terjadi di malam itu hingga terbitnya fajar. Meskipun suasana kedamaian  itu terjadi di malam hari tetapi pengaruhnya bakal terus terasa hingga siang hari dan hari-hari selanjutnya.
Jadi di akhir bulan Ramadhan jika Anda  merasakan kedamaian, tidak ada perasaan khawatir, berperasaan optimistik, selalu bersemangat,  pikiran makin terang, muncul ide segar, maka ketahuilah  Anda telah menembus lailatul qadar.   Malaikat telah  mendampingi Anda untuk menyelesaikan segala urusan. Segala persoalan yang Anda hadapi menemukan jalan keluarnya.
Malaikat adalah makhluk pelayan Allah yang setia. Tidak membantah, tidak bernafsu. Hobinya bertasbih memuji Allah dan menyucikan namanya (Al Baqarah : 30). Kata malaikat berbentuk jamak artinya banyak malaikat. Kata mufradnya mala’ artinya penjaga.
Ada tafsir yang menerangkan seluruh alam semesta, kehidupan, dan tiap urusan di dunia dan akhirat dijaga oleh mala’.  Angin bergerak yang mengatur adalah mala’. Gunung meletus yang berperan adalah mala’. Makhluk lahir, mati, dan rezeki di sisinya ada mala’. Ketakutan, keberanian, dan cinta digerakkan oleh mala’. Jadi semua kekuatan alam semesta yang bergerak dan berkembang bahkan dalam benda sekecil atom, di situ ada peran mala’.
Orang-orang Rumawi dan Hindu sadar kekuatan alam itu ada penjaganya. Kemudian dua bangsa ini memersonofikasi kekuatan alam itu sebagai makhluk perkasa di atas kekuatan manusia yang disebut dewa. Maka mereka pun memberi nama-nama makhluk personofikasi kekuatan alam itu sesuai dengan fungsinya. Ada Dewa Angin, Dewa api,  Dewa Laut, Dewi Padi, Dewa Gunung, Dewa Amor, Dewi Fortuna,  dan nama dewa lainnya.
Dewa-dewa ini mereka sembah, dipuja-puji, diberi sesaji karena dianggap berpengaruh dengan kehidupan manusia. Padahal mereka sebenarnya adalah malaikat. Dua bangsa ini menganggap tidak begitu penting Tuhan yang sebenarnya sebab tidak langsung bersentuhan dengan kehidupan mereka. Begitulah paham ini kemudian tersebar ke penjuru dunia menjadi agama. Alquran menjelaskan semua urusan alam semesta itu dipegang oleh malaikat.  Dan malaikat bukanlah Tuhan yang patut disembah. Allah Tuhan yang sebenarnya yang menciptakan dan mengatur semua itu.
Ruh yang disebut dalam surat Al Qadar adalah jibril. Dia mendatangi manusia untuk memberikan wahyu, ilham, inspirasi, ide, gagasan untuk memecahkan persoalan yang dihadapi manusia.
Manusia yang didatangi malaikat dan ruh tentu saja adalah manusia yang dimensinya sudah sefrekuensi dengan gelombang malaikat. Itu bisa dicapai oleh orang yang benar-benar melaksanakan puasa dan qiyamul lail. Disambung dengan  i’tikaf, berdiam, konsentrasi, semedi, sebagai upaya untuk menciptakan keheningan, menemukan frekuensi yang sama.
Inilah puasa berkualitas. Puasa yang nuansa ruhaninya mampu mencapai frekuensi malaikat. Hanya orang-orang yang berpuasa seperti ini yang bisa menembus lailatul qadar. Didatangi malaikat untuk dibantu segala urusan kehidupannya. Mendapatkan keselamatan, kedamaian, selama malam hingga fajar.
Jadi setelah bulan Ramadhan ini berakhir, saatnya mengukur diri ketika memasuki Syawal. Jika kehidupan Anda terus berkembang menjadi lebih baik, rezeki bertambah, prestasi meningkat, hidup rumah tangga makin tentram, akal makin cerdas menemukan solusi, muncul ide-ide brilian, konflik dan sengketa terselesaikan, serasa mendapat energi baru,ketahuilah  itu tandanya Anda mendapatkan lailatul qadar.
Manusia yang menembus lailatul qadar rasanya seperti dilahirkan kembali. Menjadi manusia baru penuh pencerahan. Menjadi manusia fitrah yang dilahirkan memasuki dunia Idul Fitri. Disambut dengan suka cita lewat kumandang takbir, tahlil, dan tahmid mulai malam hingga pagi.  
Sebaliknya jika kehidupan Anda sesudah Ramadhan datar-datar saja, sama seperti biasanya atau bahkan menurun, sadarilah bahwa kualitas puasa Anda juga biasa-biasa saja sehingga lailatul qadar tidak menghampiri Anda. Lebih buruk lagi bila Anda hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Pahala pun tidak karena puasa Anda sekadar basa-basi.
Taqabalallahu minna wa minkum. Taqabal Ya Kariim.  

Rabu, 20 April 2016

MUJAHIDIN





Penyanderaan awak kapal  Indonesia oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selatan, 26 Maret lalu, membuat kita bertanya, mungkinkah kelompok pejuang muslim atau mujahidin melakukan kejahatan itu? Abu Sayyaf adalah kelompok milisi  muslim yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa Moro di Filipina. Kelompok ini adalah pecahan dari MILF (Moro Islamic Liberation Front).
                Ketika membuka file tentang  Abu Sayyaf ternyata pembajakan kapal dan penyanderaan bukan kali pertama ini saja terjadi. Hampir sepanjang tahun mereka melakukan itu di Selat Filipina di wilayah Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Mereka memang bangsa pelaut yang menguasai perairan itu.
                Kita buka file lagi ternyata penyanderaan juga dilakukan oleh kelompok pejuang muslim di negara  lain yang sedang berjuang untuk merdeka. Misalnya kelompok Boko Haram di Afrika, ISIS di Suriah, pejuang Somalia, Taliban di Afghanistan. Mereka minta tebusan uang atas sandera itu kalau tidak dipenuhi maka sandera dihukum mati. Ada yang menyebut uang tebusan itu untuk membiayai operasional kelompok mereka.
                Mungkin ada yang berdalih bahwa sandera itu statusnya adalah tawanan perang sehingga sah saja itu dilakukan. Tapi faktanya, sandera itu diperoleh dengan cara menyerang warga sipil yang tidak terlibat dengan perang. Sandera itu bisa saja pejabat setempat, pekerja asing, turis, atau wartawan. Sangat jauh sekali sandera ini disebut sebagai tawanan perang apalagi budak.     
                Tawanan perang adalah orang yang terlibat perang yang kalah atau tertangkap. Di zaman dahulu kala status mereka sama seperti ghanimah atau harta rampasan perang. Kalau kerabatnya ingin menyelamatkan maka tawanan ini ditebus dengan sejumlah uang. Jika tidak maka statusnya menjadi budak. Tidak peduli  kedudukannya setinggi apa di masyarakatnya, ketika menjadi budak bisa diperjualbelikan di pasar budak. Semua hak sosial dan kemanusiannya lenyap.
                Perlakuan tawanan perang sebagai budak sudah lama dihapus karena tidak manusiawi. Negara-negara di dunia lewat kesepakatan PBB dalam Perjanjian Jenewa sepakat memperlakukan tawanan perang secara baik.  Ini demi penghargaan harkat martabat sebagai manusia.
                Lantas kalau kemudian ada kelompok pejuang yang menyebut berjihad demi Islam lantas merampok dan menyandera warga sipil bisakah perbuatan itu dibenarkan? Memang ada dalil tentang fa’i. Yakni perampasan harta benda orang-orang kafir yang memusuhi  Islam. Atas dasar dalil fa’i  inilah ada kelompok yang membenarkan merampok toko mas atau rumah orang kaya untuk membiayai jihad.
Kelompok ini berdalih, sekarang ini dalam situasi perang melawan pemerintah kafir dan thagut. Negara yang diatur tidak berdasar Alquran, mereka hukumi kafir dan thagut dan wajib diperangi. Karena itulah mereka membenarkan berlakunya hukum perang meskipun secara fakta negara itu dalam kondisi damai.
Kelompok pejuang ini pun melancarkan serangan secara sporadis di tempat strategis untuk mengacaukan keamanan negara. Mereka sebut ini perang gerilya sebagai taktik melawan kekuatan besar. Tapi pemerintah menyebut sebagai kelompok teroris sebab mereka menebar teror di masyarakat.
Terlepas dari dalil-dalil tadi ada baiknya kita melihat efek maslahat dan mudaharat yang ditimbulkan dari perbuatan itu. Efek maslahat dari perbuatan itu hanya dinikmati oleh kelompok itu sendiri  berupa uang tebusan atau eksistensinya yang harus diperhitungkan.  Efek mudharatnya justru lebih besar menimpah Islam dan kaum muslimin.
Dengan perbuatan itu Islam dikenal sebagai agama yang keras, radikal, dan teror.  Islamofobia makin meluas di negara kafir. Sekeras apa pun suara pembelaan bahwa kekerasan itu hanya dilakukan oleh oknum, bukan cerminan ajaran Islam yang sebenarnya tapi cap Islam sebagai agama teror telanjur  melekat. 
   Dalam Sirah Nabawi, ada situasi yang mirip-mirip seperti ini tapi harus ditelaah dengan cermat agar tidak salah tafsir. Penyebab pecah Perang Badar adalah penghadangan kafilah dagang Quraisy dari Syam yang dipimpin Abu Sufyan oleh pasukan muslim Madinah.
                Bagi saudagar Quraisy, penghadangan itu adalah perampokan. Namun bagi kelompok muslim, tindakan itu sebagai balasan atas serangan orang Quraisy terhadap ternak orang Madinah. Lebih jauh lagi, penghadangan itu juga balasan kepada kafir Quraisy atas pengusiran kaum muslimin dari Mekkah.
                Selain itu situasi antara orang Mekkah dan Madinah sejak masa hijrah memang dalam kondisi perang.  Secara sporadis antara dua kota ini sudah terjadi perang kecil hingga peristiwa penghadangan kafilah Quraisy itu  menyulut perang besar ketika kedua pihak mengerahkan pasukannya. Kasus Perang Badar tidak pas untuk membenarkan tindakan penyanderaan oleh kelompok  mujahid.
                Peristiwa yang mungkin agak cocok untuk menjelaskan perbuatan kelompok pejuang garis keras ini adalah terbentuknya kelompok Abu Bashir. Setelah perjanjian Hudaibiyah ditandatangani, konsekuensinya kaum muslim Mekkah tidak bisa lagi hijrah ke Madinah. Kalau ada muhajirin yang nekat  maka Nabi Muhammad harus mengembalikan ke  Mekkah. Masalahnya mereka tidak bersedia lagi hidup di Mekkah bersama orang kafir.
Muhajirin telantar ini seperti Abu Bashir dan Abu Jandal bin Amr kemudian lari ke daerah Al Ish. Di dekat situ adalah jalur pesisir pantai tempat para kafilah berlalu lalang antara Syam dan Mekkah. Di sinilah Abu Bashir menetap dan memulai petualangannya. Untuk memenuhi hidup dia mencegat kafilah yang lewat dan merampas hartanya.
                Kabar tentang Abu Bashir sebagai perampok di jalur pesisir langsung tersebar ke mana-mana.
Abu Bashir menjadi terkenal. Orang-orang Islam Mekkah yang tidak dapat hijrah ke Madinah tertarik dengan kisah Abu Bashir.  Satu demi satu mereka pergi menuju Al Ish bergabung dengannya.
                Lambat laun kelompok Abu Bashir makin kuat. Banyak orang telantar bergabung dengan kelompok ini. Pasukannya mencapai jumlah tujuh puluh orang menjadi kelompok paling ditakuti para kafilah di jalur pesisir. Gangguan di jalur itu meresahkan pemimpin Mekkah yang bertanggung jawab atas keselamatan para kafilah.
                Pemimpin Quraisy kemudian berkirim surat kepada Rasulullah untuk melindungi para kafilah dan mengatasi orang-orang Islam yang menjadi perampok di jalur itu. Rasulullah menyanggupi dengan syarat Abu Bashir dan anggota kelompoknya dibolehkan ditarik ke Madinah.
Orang Quraisy tidak mau pusing lagi dengan Abu Bashir dan isi perjanjian Hudaibiyah. Bagi mereka yang penting jalur dagang itu aman. Maka Rasulullah mengirim utusan ke Abu Bashir.  Dia dan anggota kelompoknya diminta segera tinggal di Madinah dan mengakhiri aksinya.
                Bisa jadi kelompok Abu Sayyaf dan sejenisnya adalah orang-orang telantar yang perjuangannya tidak kunjung selesai. Solusinya adalah perundingan damai  antara semua kelompok pejuang dengan pemerintah. Seperti  perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan pemerintah. (*)

Kamis, 17 Maret 2016

Homoseksual Itu Teroris



                Kelompok homoseksual sekarang mencoba lebih berani tampil terbuka ke masyarakat. Bulan Februari lalu, memanfaatkan Valentine Day,  mereka secara demonstratif berpawai di jalan Car Free Day  Kota Jakarta. Mereka yang tergabung dalam Komunitas LGBT (Lesbian Gay Biseks dan Transgender) menuntut hak yang sama sebagai warga negara.
Era reformasi menjadikan orang begitu bebasnya menyuarakan keinginan. Bahkan keinginan yang menyimpang dari nilai dan norma. Kaum homoseksual menyatakan mereka sebagai orang normal yang hak-haknya harus dihargai termasuk orientasi seks yang menyukai sejenis.
Jumlah kaum homoseksual terasa bertambah meskipun kepastian angkanya belum pernah disiarkan. Tapi sekarang ini dalam satu kampung  cenderung ada seorang LGBT. Setidak-tidaknya ditemukan lelaki bergaya perempuan.
Keinginan menambah jumlah anggota secara sadar dilakukan oleh kaum ini dengan cara memengaruhi orang lain untuk menjadi homoseksual. Seorang homoseksual mencari korban mulai anak-anak hingga remaja untuk memenuhi hasratnya. Korban ini setelah terjerumus kemudian mencari korban lain. Begitu seterusnya sehingga tanpa disadari jumlahnya terus bertambah.
Kesadaran menambah jumlah anggota ini selalu muncul di kalangan minoritas.  Homoseksual adalah minoritas dengan perilaku menyimpang menyukai sejenis dalam masyarakat normal.  Sebagai minoritas, mereka merasa hidup dan hak-haknya tertindas oleh mayoritas.
Tentu saja mereka ingin keluar dari ketertindasan ini. Caranya dengan menyebarkan perilaku menyimpang itu ke masyarakat. Targetnya orang normal tertular menjadi abnormal. Minimal orang normal merasa terbiasa dan menganggap wajar  perilaku menyimpang homoseks ini.
Sasarannya tokoh masyarakat, artis, aktivis LSM. Mereka adalah orang-orang yang punya massa, fans, penggemar yang gaya hidupnya suka ditiru. Begitu Olga Syahputra tenar menjadi artis pengisi acara di TV, tak pelak  bermunculan remaja pria berpenampilan kemayu dengan gaya berjalan dan bicara melambai-lambai seperti Olga.
Acara TV pun sering menampilkan remaja banci dan mengeksploitasinya sebagai tontonan yang diharapkan meraup iklan. Bersyukur, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) telah melarang menampilkan banci dalam tontonan TV.
Masyarakat juga tersentak ketika artis Saipul Jamil ditangkap polisi karena mencabuli remaja pria 17 tahun di rumahnya. Tapi ada orang yang mengenal Saipul berujar itu sudah biasa. Ini kasus yang terungkap. Kasus perilaku menyimpang lain  yang masih tertutup pasti ada menunggu waktu terkuak. 
Bila tahap penularan orientasi seks dan penilaian wajar  masyarakat sudah terkondisi maka kaum homosksual berani muncul terbuka dan demonstratif karena merasa sudah mempunyai bargaining power. Mereka sudah memiliki kekuatan untuk menyampaikan aspirasinya meskipun tetap minoritas. Merasa telah cukup kuat menentang masyarakat yang normal.
Boleh jadi sekarang ini  kelompok homoseksual sudah mencapai tahap kekuatan  ini sehingga terang-terangan menuntut bahwa homoseksual adalah hak asasi manusia yang harus dihormati dan mendapat perlakuan hukum yang sama. Bahkan disebutkan UNDP (United Nation Development Programme) membiayai program kampanye LGBT di Indonesia. Nah, kalau sudah begini, apakah Anda diam saja menunggu keluarga tertular?
Homoseksual lebih pas disebut sebagai penyakit. Penyakit penyimpangan orientasi seksual. Ada yang menyebut sekarang bukan lagi penyakit namun sebagai gaya hidup. Variasi dalam kehidupan seks. Jika demikian kondisinya maka situasinya sudah sangat parah. Sebagai gaya hidup pasti mudah sekali menyebar karena orang penasaran ingin menikmatinya.
Melihat kondisinya seperti ini maka homoseksual sama bahayanya dengan terorisme. Keduanya mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bayangkan, jika perilaku menyimpang ini meluas. Remaja pria banyak yang tampil kemayu, sesama pria atau sesama perempuan bermesraan di taman, di jalan terbuka. Maka tatanan nilai, norma sudah rusak. Sendi masyarakat lemah, bangsa tidak lagi karuan bentuknya.
Untuk menyadarkan mereka tidak perlu dikhutbahi tentang nasib penduduk Sodom, kaum Nabi Luth, yang mendapat azab dari Allah karena homoseksual. Percuma, mereka tidak takut azab. Karena homoseksual sama-sama mengancam negara sudah sepatutnya pemerintah bertindak sama seperti memberantas kelompok teroris.
Namun pemerintah sepertinya abai, ragu-ragu, takut dituduh melanggar HAM. Padahal homoseksual itu juga melanggar ideologi negara Pancasila. Mereka melanggar aturan Tuhan. Mereka melanggar nilai kemanusiaan dan tidak beradab. Mereka memecah belah persatuan. Melanggar aturan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan. Apalagi tentang keadilan sosial.
Pemerintah terhadap teroris berani tegas bersikap tumpas habis bahkan membentuk Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Kenapa untuk homoseksual pemerintah bersikap lemah gemulai? Padahal kelompok ini mengancam generasi, merusak otak dan mental, menularkan perilaku menyimpang. Karena sama bahayanya dengan terorisme maka sepantasnya pemerintah membentuk Badan Nasional Penanggulangan Homoseksual. Tangkap kaum homoseks kemudian lakukan dehomoseksualitas.
Pemerintah mengabaikan keberadaan kelompok homoseksual karena tidak mengganggu kekuasaan. Teroris dibasmi karena dituduh mau mengubah ideologi negara. Pengubahan ideologi negara itu menyentuh kepentingan penguasa. Maka penguasa langsung tanggap dan cepat merespon dengan menangkapi orang-orang yang dituduh teroris.
Kaum homoseksual sebenarnya juga teroris. Sebab keberadaan mereka meneror anak-anak dan remaja. Ajaran homoseksual juga sesat dan menyesatkan. Mereka juga melakukan kekerasan seksual, kerusakan moral. Mereka memang tidak mengganti Pancasila tapi kelak kalau sudah menjadi kekuatan dominan mereka membuat tafsiran baru tentang Pancasila. Sama seperti rezim Soeharto menafsirkan Pancasila untuk kepentingan kekuasaannya.
Suatu hari kelak jika pemerintah abai dan membiarkan kelompok homoseksual menjadi kuat maka tunggu saja saatnya ada tafsir bahwa homoseksual itu sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Dan orang normal dituduh bertentangan dengan Pancasila. Kalau masa seperti itu datang maka orang normal bakal ditindas dan ditangkapi karena dituduh teroris. *